Dimuat Kompas, 20 September 2006
Jamaludin Wiartakusumah
Selama ini
Dalam tata
Hampir seluruh instalasi militer sekarang di
Calon Ibukota Negara
Semua itu bermula dari rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari
Sebagai calon ibukota negara (Hindia Belanda) tentu diperlukan dukungan militer. Untuk itu departemen peperangan (Departement van Oorlog) juga mulai melakukan pemindahan berbagai instalasi dan personil sejak tahun 1816 sampai tahun 1920. Pabrik senjata Artillerie Constructie Winkel (sekarang Pindad) yang semula berada di
Stadion Siliwangi sekarang sangat boleh jadi dulunya juga adalah lapangan olahraga tentara kolonial Belanda, mengingat di kawasan itulah pusat berbagai instalasi militer termasuk perumahan tentara di sebelah timurnya yang masih dipakai sampai sekarang. Kawasan militer sekitar stadion Siliwangi memanjang hingga ke markas Kodam III Siliwangi sekarang. Gedung bergaya Art Deco itu dulunya hanyalah rumah dinas panglima tentara Hindia Belanda (Paleis van den Legercomandant). Adapun kantor Departement van Oorlog-nya sendiri adalah gedung yang sekarang gedung Kodiklat AD di depan taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution. Gedung Jaarbeurs yang dahulu adalah gedung pameran tahunan, karena lokasinya yang satu komplek dengan gedung Kodiklat, sekarang menjadi bagian dari instalasi militer.
Instalasi militer yang kemudian juga dibangun dan makin melengkapi julukan Bandung sebagai Kota Militer antara lain adalah Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Gatot Subroto, kawasan yang sebelumnya hanya menjadi markas Kavaleri yang dibangun pemerintah kolonial Belanda. Angkatan Udara tentu berdekatan dengan bandara Husen Sastranegara dan Sulaeman di Kopo. Karena Bandung terletak di tengah pulau, angkatan laut hanya memiliki satu kantor saja di Ariajipang dengan nama khas angkatan laut yaitu pangkalan.
Barangkali karena kelengkapan fasilitas dan instalasi militer itu -selain faktor sumberdaya manusia- ketika Indonesia merdeka, Bandung dapat dengan segera menjadi kota utama kelahiran kesatuan militer republik yang pertama dibangun dan kemudian menjadi kodam Siliwangi.
Kondusif
Perkembangan
Kondisi yang harus dibenahi antara lain pengendalian perubahan lingkungan seperti dari pemukiman menjadi kawasan bisnis sebaiknya tidak membuat posisi instalasi militer menjadi terpinggirkan atau tampak tidak layak lagi berada di lokasi itu. Jalan di kawasan militer sebaiknya juga tidak menjadi jalan umum karena tentunya sedikit banyak akan mengganggu suasana. Meskipun mungkin sekali masyarakat merasa senang melewati kawasan kavaleri di sekitar Turangga karena dapat melihat kuda dan puluhan tank diparkir.
Hal yang menarik dari keberadaan instalasi militer di kota Bandung adalah selain menciptakan kondisi yang relatif aman, juga hubungan dengan masyarakat terjalin dengan baik sesuai dengan fakta sejarah bahwa tentara lahir dari rakyat. Setiap musim kegiatan ospek di luar kampus, belasan truk militer dipenuhi mahasiswa berbagai kampus menuju kawasan kebun teh atau kawasan berkemah (camping ground) seperti Ranca Upas di Ciwidey. Selain sarana transportasi, perlengkapan militer lainnya seperti tenda peleton dan alat memasak juga dipakai dalam kegiatan itu. Sebuah contoh nyata hubungan mesra militer dan mahasiswa yang seharusnya juga dicontoh oleh seluruh eksponen bangsa. Kerjasama dalam bentuk bisnis juga tampak terjadi: beberapa gedung yang semula rumah dinas atau wisma milik tentara berubah jadi factory outlet, membuat kota Bandung menjadi kian semarak. Semoga itu semua tidak membuat tentara menjadi kekurangan fasilitas untuk tetap menjadi tulang punggung bangsa menjaga negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar