Selasa, 02 Desember 2008

Estetika Sunda

Dimuat di rubrik Khazanah Pikiran Rakyat , Sabtu 5 April 2008 http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=17717


SENI RUPA
Mencari Estetika Dalam Budaya Rupa Sunda

Mungkinkah kita dapat mencari dan menemukan konsep keindahan atau katakanlah estetika dalam budaya rupa (visual culture) Sunda? Berdasarkan tujuh ciri universal kebudayaan Koentjaraningat yang legendaris itu, yang salah satunya kesenian, tentu pertanyaan itu bisa dijawab sangat mungkin. Karena kesenian dalam berbagai bentuknya ada dalam kebudayaan Sunda dan konsep keindahan atau katakanlah estetika merupakan rohnya kesenian.

Upaya yang dapat dilakukan salah satunya berupa penelusuran ke bentuk atau artefak budaya rupa hasil karya manusia Sunda zaman bihari, kemarin, dan sekarang, kemudian dicari latar dan makna atau konsep keindahan yang membentuk artefak tersebut. Gambaran masyarakat masa lalu termasuk konsep keindahan dapat ditelusuri pada naskah Sunda Kuno yang telah dialihaksara dan dialihbahasa oleh ahlinya, mulai dari KF Holle, CM Pleyte, dan J. Noordyun sampai Drs Atja, Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Edi S. Ekadjati, Tien Wartini, dan Undang Ahmad Darsa.

Cara lainnya adalah dengan menelusuri budaya lisan dalam bentuk babasan dan paribasa.

Naskah Sunda Kuno

Dalam Sewaka Darma dan Sanghyang Siksakandang Karesian (SSKK) (Saleh Danasasmita, dkk, 1987) dan Kropak 420 (Undang A. Darsa, Edi S. Ekadjati, 2006) ditemukan berbagai kata yang mengacu pada kata indah dan keindahan dalam berbagai konteks. Misalnya dalam Sewaka Darma (lempir 35) ditemukan kalimat tempat yang diperindah yaitu taman dengan cara membuat komposisi dari berbagai jenis tanaman yang masing-masing memiliki ciri khas seperti warna, bentuk bunga, dan ketinggian yang beragam.

Dalam SSKK (lempir III dan IV) terdapat warna putih, merah, warna terang, kunin dan hitam yang dipakai sebagai simbol mata angin tempat kediaman dewa. Juga ditemukan pemahaman terhadap makna garis berkelok lembut atau lengkung (garis organis) dan garis lurus yang menggambarkan kondisi kehidupan yang mengalir mulus. Dalam SSKK ini pula terdapat berbagai sebutan pertukangan serta karyanya. Dalam seni ukir, dikenal model naga-nagaan, barong-barongan, ukiran burung, ukiran kera, dan ukiran singa. Ahlinya disebut Maranggi. Dalam seni lukis, dikenal model pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata, kembang teratai. Juga dalam seni batik, pandai besi yang masing-masing lengkap beserta berbagai sebutan model, bentuk atau motif. Tinggal dicari arti setiap istilah ke dalam pengertian sekarang. Dalam seni lukis, misalnya, dikenal model urang-urangan, bila "urang" dipahami "orang", maka itu artinya lukisan dengan objek berupa manusia.

Dalam Sewaka Darma (lempir 56-57) ditemukan konsep keindahan dalam konteks metafisika yaitu tentang kematian sebagai bentuk yang sempurna. Sedang pada lempir 63 terdapat gambaran rumah yang indah yang digambarkan dengan serbakencana, bersinar semarak seperti bintang timur, seperti bulan sedang purnama dan segar seperti hari cerah sehabis hujan. Penggambaran istana kahyangan (lempir ke 51, 52 dan 53) tampak sangat rinci menceritakan konstruksi bangunan dan material yang dipakai. Misalnya istana Batara Isora di Timur, bahannya serbaperak, tiang dari bahan perak berukir, atap perak cina, bubungan perak berlinggakan permata, lantai perak malaka dan dinding perak keling. Gambaran yang imajinatif ini tentu untuk mencitrakan kesempurnaan hunian para dewa dan hyang.

Tradisi lisan

Dalam seni rupa dan desain terdapat tiga bentuk dasar yaitu segiempat, lingkaran, dan segitiga. Uniknya, dalam babasan dan paribasa terdapat beberapa ungkapan yang menggunakan bentuk atau rupa dasar tersebut yang dipakai sebagai simbol suatu kondisi atau sifat sempurna. Misalnya "Hirup kudu masagi" (Hidup harus berbentuk persegi) menggunakan bentuk pasagi (persegi, bujursangkar), "Niat kudu buleud" (niat harus bulat) menggunakan bentuk lingkaran, "bale nyungcung" atau Buana Nyuncung (tempat para dewa dan hyang dalam kosmologi masyarakat Kanekes, menunjuk pada bentuk dasar segitiga. Bale nyungcung adalah sebutan untuk bangunan suci yang dalam Islam adalah masjid yang dahulu beratap tropis model gunungan bertumpuk dengan puncak berbentuk atap limas yang disusun dari empat bentuk segitiga.

Masing-masing bentuk tersebut memiliki makna yang sama yaitu kesempurnaan, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Persegi menunjuk pada tindakan atau kelakuan yang seimbang dalam berbagai sisi kehidupan, bulat sebagai simbol ideologis, keimanan atau keyakinan dan segitiga menunjuk pada tempat yang sempurna atau suci.

Prinsip komposisi estetik yang pertama ditemukan menurut Herbert Read adalah simetri. Konsep bentuk simetri memang terdapat di alam, pada bentuk makhluk bergerak seperti manusia, hewan, unggas, ikan, dan lain-lain. Ciri simetri adalah apabila suatu objek dibuat garis vertikal di bagian tengahnya, maka garis itu akan membagi objek ke dalam dua bagian yang sama. Dalam tradisi lisan Sunda terdapat ungkapan "siger tengah" untuk menunjuk sikap moderat. Secara rupa, ungkapan ini menunjuk adanya dua sisi sehingga tercipta bagian tengah yang membentuk simetri. Berada di tengah berarti dalam posisi berimbang terhadap sisi kiri dan kanan. Bila netral diartikan tidak memihak (berada di luar dua pihak), siger tengah memihak pada bagian terbaik dari kedua sisi yaitu bagian yang paling dekat ke tengah yang dapat dimaknai sebagai bagian yang paling akomodatif.

Artefak budaya hunian

Gambaran artefak budaya hunian Sunda bihari terdapat dalam naskah Sunda Kuno dan inkripsi pada prasasti seperti Batutulis Bogor dan laporan Tome Pires. Pires, seorang pelaut Portugis yang sekitar tahun 1513 tiba di pelabuhan Sundakalapa, meskipun singkat tapi cukup memberi gambaran sekaligus konfirmasi terhadap keterangan dari naskah Sunda Kuno mengenai adanya bangunan keraton Pakuan Pajajaran. Laporan Pires menunjukkan adanya bangunan yang indah dengan atap dari ijuk atau rumbia (palm leaf) dan kayu. Kediaman raja memiliki 330 pilar kayu setebal tong anggur dengan tinggi lima depa dengan pekerjaan kayu (ukiran) yang indah pada bagian atas pilar. Laporan Pires yang sampai menjelaskan jumlah pilar, tampaknya berdasarkan model bangunan antik Barat yang dicirikan dengan bentuk pilar (kolom) dengan model masing-masing yang khas seperti Dorik, Ionik, Tuskan, dan Korintian.

Sementara itu, budaya hunian Sunda kemarin dapat dilihat pada berbagai rumah dan kampung adat atau vernakular yang tersebar di seluruh Jawa Barat dan Banten. Disebut kemarin karena membawa konsep zaman bihari misalnya kosmologi. Di kampung adat, bangunan tidak boleh menggunakan material yang berbahan tanah karena tanah adalah dunia bawah atau buana larang, tempat untuk orang yang telah mati.

Material vernakular seperti ijuk atau nipah untuk atap, anyaman bambu untuk dinding seperti yang terdapat di rumah kampung adat, dalam kebudayan kontemporer dipakai sebagai identitas lokal.

Kebudayaan Sunda dan Indonesia secara umum pernah terinterupsi dalam waktu yang cukup lama yaitu pada masa kolonialisasi Belanda. Menjadi wajar adanya percampuran budaya Barat dan lokal karena hal itu telah berlangsung jauh sebelumnya. Paling tidak sejak orang India datang membawa agama Hindu, Buddha, lalu orang Arab atau India membawa Islam. Selain menyebarkan agama, mereka juga membawa serta kebudayaan India dan atau Timur Tengah --hal yang juga dilakukan Belanda pada masa kolonial. Pengaruh kolonialisasi ini lalu dominan pada perkembangan tata kota, arsitektur, dan kesenian secara umum dan menjadi landasan model pembangunan budaya rupa ketika Indonesia merdeka.

Uniknya, dalam perjalanan waktu, masih ada di sana-sini berbagai kampung adat atau kampung budaya lokal yang masih memberikan gambaran budaya rupa pada masa lalu. Sementara itu, transformasi budaya juga terjadi dengan bentuknya yang unik termasuk alih fungsi artefak budaya. Aseupan (kukusan) yang semula perabot untuk menanak nasi dibawa ke kota untuk dijadikan kap lampu di kafe-kafe!***

Jamaludin Wiartakusumah
Mahasiswa Program Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB, Dosen Desain Interior Itenas .

Tidak ada komentar: