|
Museum “Kampung Sunda” Oleh: Jamaludin Wiartakusumah Selain museum berupa bangunan yang di dalamnya disimpan berbagai artefak sesuai dengan tema atau nama museum, terdapat jenis museum yang disebut “open air museum” atau museum terbuka. Disebut demikian karena bentuk museum tersebut tidak hanya berupa suatu unit bangunan yang didalamnya disimpan dan dipamerkan artefak budaya, tetapi sebagian besar museum jenis ini mengoleksi berbagai bangunan tua.Biasanya dengan setting yang mengikuti lanskap masa lalu tempat bangunan tersebut berada. Dengan begitu, museum terbuka ini dapat juga disebut sebagai “museum bangunan”. Museum terbuka umumya menempatkan bangunan sebagaimana aslinya di lokasi museum dengan cara memindahkan dari lokasi aslinya dengan membangunnya kembali dengan utuh dan sedapat mungkin sesuai dengan keadaan di lokasi asli. Keunikan lain dari museum jenis ini adalah adanya upaya untuk menghidupkan koleksi museum dengan cara mempraktekkan kehidupan yang pernah dijalani pada masa ketika masyarakat menghuni rumah model yang dikoleksi museum tersebut. Berbagai kegiatan digelar menurut agenda yang sebagian besar melibatkan pengunjung untuk serta berpartisipasi dalam setiap kegiatan di museum terbuka tersebut. Pada beberapa museum terbuka, setiap bangunan dihuni oleh satu unit keluarga atau lebih yang masing-masing melakukan model kehidupan sesuai dengan konteks jaman ketika hunian tersebut dipakai. Mereka juga bertindak sebagai pemandu bagi pengunjung baik dalam bentuk informasi maupun dalam melakukan suatu kegiatan yang khas. Museum jenis open air museum pertama kali muncul di kawasan Skandinavia pada akhir abad 19 yaitu di dekat Olso Norwegia yang dibangun pada tahun 1881. Museum ini merupakan koleksi Raja Oscar II dengan koleksi berupa 8 hingga 10 bangunan yang diambil dari berbagai wilayah di Norwegia. Masing-masing bangunan menunjukkan evolusi bangunan tradisional Norwegia sejak Abad Pertengahan. Dengan menggunakan model museum terbuka di Oslo diatas, pada 1891, Artur Hazelius membangun museum terbuka Skansen di Stockholm Swedia yang kemudian menjadi sangat terkenal. Musem Skansen ini kemudian menjadi model museum terbuka yang dibangun berikutnya di seluruh Eropa Utara dan Timur dan juga di bagian lain dunia. Nama “Skansen” kemudian juga menjadi istilah yang mengacu pada open air museum dan koleksi arsitektur historis, terutama di Eropa tengah dan timur. Pada tahun 1997, saya berkesempatan mengunjungi Frilandmuseet, yaitu museum terbuka di Denmark. Museum terbuka ini adalah yang terbesar dan salah satu yang tertua di dunia berada di Kongens Lyngby (baca: Lungbu), di utara Kopenhagen dengan luas sekitar 40 hektar. Museum ini pertama kali dibangun pada 1897 dan pada 1901 dipindahkan ke tempatnya sekarang. Museum tersebut menampung 50 lahan pertanian, kincir angin dan sekitar 100 berbagai bentuk rumah pada periode 1650 hingga 1950. Model rumah yang dikoleksi berasal dari berbagai tempat di Denmark termasuk bekas wilayah Denmark yang sekarang masuk wilayah Swedia dan Jerman. Museum terbuka ini umumnya dilengkapi oleh pemandu yang berpakaian tradisional yang pada waktu-waktu tertentu mendemonstrasikan pekerjaan zaman dulu seperti menenun, menyulam dan pembuatan peralatan memancing kepada pengunjung yang juga diajak ikut serta melakukan berbagai kegiatan tersebut. Dewasa ini museum terbuka tersebar di hampir setiap negara di seluruh dunia. Menurut Wikipedia, di Eropa sendiri terdapat sekitar 250 museum terbuka dalam skala nasional dan regional atau wilayah yang lebih kecil. Di Amerika sekitar 27 museum terbuka, di Kanada 16, di Afrika terdapat di Kairo Mesir yang menggambarkan perkampungan zaman Fir’aun. “Kampung Sunda” Dari keberagaman model hunian tradisonal Sunda yang sebagian berada di berbagai kampung adat yang tersebar mulai dari Kampung Kuta Ciamis Jawa Barat hingga Kanekes (Baduy) di Lebak Banten, budaya hunian masyarakat Sunda tradisional memiliki potensi untuk dikumpulkan dalam suatu kawasan dalam bentuk museum terbuka. Dalam konteks lokal Indonesia, istilah open air museum sangat mungkin diadopsi ke dalam bahasa lokal, misalnya museum terbuka “Kampung Sunda” dengan nama populer “Kampung Sunda”. Koleksinya terdiri dari berbagai rumah asli atau bangunan khas diambil dari seluruh wilayah budaya Sunda, baik yang berada di kampung adat atau wilayah lain di luar kampung adat dengan kriteria rumah tradisional yaitu dengan ciri utamanya berupa desain vernakular yang merepresentasikan suatu komunitas Sunda di suatu wilayah. Dengan begitu, Museum “Kampung Sunda” adalah kompleks atau kawasan yang mengoleksi dan memamerkan serta ‘menghidupkan’ berbagai bentuk hunian tradisional (arsitektur vernakular) asli masyarakat Sunda. Unsur yang tidak kalah penting dari Museum “Kampung Sunda” tersebut adalah kondisi lingkungan tempat asal setiap model hunian harus dapat diwujudkan di sekitar rumah tersebut. Kondisi aslinya ini akan memberi atmosfer yang memberi gambaran sesungguhnya tentang keberadaan rumah tradisional tersebut. Sarana seperti jalan setapak, sawah, huma, kolam, leuit dan sarana lain yang umumnya terdapat di suatu kampung tradisional Sunda. Hal ini menyangkut pada mata pencaharian utama suatu komunitas tradisional termasuk keberadaan pohon kawung mengingat sebagian mata pencaharian masyarakat tradisional adalah penyadap pohon kawung untuk dibuat gula aren (gula merah dari pohon kawung). Lokasi Lokasi Museum “Kampung Sunda” ini sebaiknya di sekitar Kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat yang juga dianggap sebagai puseur budaya Sunda.Untuk merepresentasikan kawasan asli rumah-rumah adat atau rumah tradisional Sunda, lokasi Museum “Kampung Sunda” harus disesuaikan dengan karakteristik khas lingkungan umumnya rumah tradisional sebagaimana di habitat aslinya yaitu di dataran tinggi atau pegunungan. Jatinangor atau Ujung Berung barangkali lokasi yang potensial. Tentu dengan juga mengakomodasi habitat asli rumah tradisional dari kawasan pantai utara dan selatan. Selain rumah-rumah tradisional dari berbagai lokasi di dalam habitat budaya Sunda, Museum “Kampung Sunda” dilengkapi dengan hotel berjenis resor dengan arsitektur persis seperti rumah antik yang dikoleksi. Pengunjung dimungkinkan dapat mengikuti dan menjalani berbagai kegiatan yang ada dan dilakukan sebagaimana di kampung adat termasuk menjalani kehidupan berdasarkan tradisi di masing-masing kampung adat. Sarana pendukung lain adalah tempat pertunjukkan kesenian tradisional yang dibuat dalam konteks aslinya dan tentu saja toko suvenir yang menjual produk budaya khas dari rumah antik Sunda tersebut berasal. Jamaludin Wiartakusumah Dosen Desain Itenas |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar